Lintang Parahening

Puisi-Puisi

Ketika hati mulai merundukkan congkaknya, mata terpejam mencari makna…

di sana kita berdiri dalam sepi, mencari makna mengasah rasa. terbanglah hati hati yang damai

jemput warna di suarga.

Puisi Puisi M. Faruq Junaidi

(Lintang Parahening)

Cerita Eyang Putri

Eyang putri duduk di beranda

Melepas pandang di atas kursi roda

Mengulas kembali

Cerita di figura tua

Dari dinding itu…

“Dulu kakekmu pernah berjuang melawan jepang

mengangkat senjata begitu gagahnya

mempertahankan kehormatan

hingga ia harus meninggalkanmu……”

Eyang putri menutup luka itu,

Tangis yang tertahan di ujung malam

“Eyang takut, nak

kehormatan itu menyusul kakekmu…”

Ponorogo, 2006

Kepada Ibu Peri

Ode menulis diatas tanah

Surat cinta untuk ibu peri

:Dari putra pertiwi

Kepak kepak sayap terbang

Antara dedaunan kering

Di musim gugur hati, dan perlahan melayang

Bersama bunyi bunyi mimpi,

Sisakan makna

Kemari, ibu peri, sapa aku….

Lembar lembar hidup kami begitu lusuh

Jangan pergi, ibu peri

Bantu kami tafsiri isi hati, sebelum datang pagi

Ketika hati nurani kami mati

Ponorogo, 2006

Tarian Luka

Para pencari sampah, menarilah

Hujan telah reda

Mungkin banjir akan surut, agar engkau bisa menyambung

Tali di lehermu yang mulai rapuh

Para pengemis, menarilah, walaupun..

Tangan dan kakimu terlalu mulia untuk menengadah

Mungkin air mata mereka akan keluar. Walau sedikit

Engkau bisa minum hari ini

Para pengamen, menarilah

Meski dawai gitarmu malu

Mungkin mereka akan terhibur

Agar engkau dapat terus bernyanyi

Para penimbun yang perutnya tambun, menarilah

Mungkin mereka akan tersenyum

Walaupun kemudian mereka menatapmu penuh nafsu

Lalu melahapmu! Jangan takut…

Menarilah…

Ponorogo, 2006

Sesungguhnya

Sesungguhnya aku sudah mati dirajam

Dalam gerbang penantian

Meramu nafu

Dan aku berzina dengan setan

Parau…

Jerit jasadku yang kalah

Terkekang dan diperbudak

Galau

Dari celah celah malam mereka datang

Membawa bendera perang

Andai matahari tidak datang esok pagi

Ketika aku pulang petang nanti

Ijinkan aku menyebut Mu

Merengkuh hangat peluk Mu

Ponorogo, 2006

Untuk masa

Tanyakan dan bersujudlah, sebelum datang masa

Ketika matahari terbit malam hari

Dan bulan bersinar disampingnya

Bocah bocah berhenti mengangis

Ibu mereka terpaku, pilu

Sejalan penuh telah terkayuh, sejenak, semua terhenti

Detak detak jantung terus merengek, meminta

Sejauh memandang

Harapan gersang

Manusia mulai berlari, mengorek-ngorek isi hati

Menghisapi air mata yang tersisa, dan terus meminta

Matahari kembali esok pagi hari

Tetapi semua berlalu…

Ponorogo, 2005

Kabar Duka

Siapa yang akan membahasakan

Kata hati

Yang telah lama mati

Dari tanah tanah terjarah…..

Ketika waktu membisu

Membacakan kabar pilu

Dari pucuk-pucuk jati layu

“Anak bangsa kehilangan Ibu…..”

Berita duka bangsa

Menyisakan luka….

Ponorogo, 2006

Untuk, Lee

Setelah percakapan semalam

Aku melihat senyummu tertinggal

Di keluguan langit

Dan bodohnya esok pagi

Lee, apakah engkau melihat

Darah adam mengalir kemudian tersekat

Lingkaran lingkaran warna

Begitu pekat

Mungkin matahari pagi ini

Menginginkan senyummu

Kala menyatu

Dalam aliran nadi

……Dimana tumbuh bunga bunga

Ponorogo, 2006

Puisi?

Mengapa puisi ini tercipta

Dari tinta kering

Gemerincing

Dari malam malam tertipu

Terseret suara serak gagak

Tercabik cabik fajar gerimis

Mengapa?

Ponorogo, Desember, 2007

Gelas kotor di matamu

Seberkas abu menggores tajam di matamu

Sisa perjamuan semalam

Hidangan untuk mereka yang jelata

Gelas kotor, abu dan bejana

Kau hirup kopi darah

Aroma mengepul dan mengendap di hatimu

Sedikit

Api di bejana memercik

Bak sang putri lakumu priyayi

Bak raja engkau tertawa

Terhanyut usia malam

Kemudian berkata kata: bla.. bla.. bla…

Padahal engkau tahu satrio pinanditho itu

Hening dalam lelaku diam dalam asal

Ponorogo, Desember, 2007

Dialog sepihak;

Perjalanan matamu menuai kemelaratan:

Tentang ambisi di rahimmu dan kesengsaraan

Ayu di wajahmu, kapan akan melayu

Busa busa di mulutmu, akankah membeku

Semua perjalananku berahir sudah. Hanya titipan arah angin yang mengalir menunjuki arah arah sesat

Menerkam merobek

Satu persatu buhul buhul ceritera suarga

Uluran tanganmu memberi aku mimpi, tanpa kau sadari

Harapan yang terbawa induk macan

Dan terselip di taring-taring runcing

Mengelupas aku mengering

Ayu, tawamu lucu

Tak ragu aku merindumu

Hanyalah engkau tergagap gagap

Memberiku kata do’a

Ponorogo, desember, 2007

Apa? 1

Perlahan aku mengulitimu

Sebentar-sebentar, aku terdiam. Indah.

“mengapa engkau bengis?”

“Mengapa engkau kejam?”

“mengapa?’

Aku melihatmu menangis sejenak. Air matamu, biru

Tangismu, sendu

O, Tuanku, perlukah aku berseru, sedihku dan penyesalanku

Kesalku dan marahku?

Apa? 2

Dan Engkau hanya berjalan perlahan

Menyelidiki, apa yang sebenarnya terjadi

Di rumah ada hati

Kursi kursi terdiam dalam lekang waktu

Padahal kemarin ia bercerita

Dari batas sejarah dan cinta

Duduklah sejenak, aku ingin bersamamu

Mejapun tertunduk malu

Apa yang akan ia ucapkan

Dari tangis pilu ia tahu

“sebuah harapan”

sempat kubertanya pada jendela

waktu, mata dan hati. Tapi sepi

ketika hari menjemput senja

kucoba tersenyum, walau telah mati

akupun meredup, kutitipkan pada pintu

harapan yang layu

ponorogo, 2007

Kota Malam

Kota malam yang sepi

Hanya ada tubuh, ketika darah tertahan,

Dingin gedung gedung

Menyekat pengemis jalanan dalam tembok tembok

Kaku

Sepasang kaki merayap

kutatap hitam

Dari pinggiran trotoar

Lalu naik disebuah jembatan

“Ah, Lebih baik aku pulang”

Penjaja malam itu sudah tergantung!

Dipagar pagar

Surabaya 2006

Kosong

Cahayaku hilang

Dibalik persengketaan

“Garis wajah yang tersegel

Ciptakan horizon mati

Tanpa ekspresi

Lalu mati”

Maukah kau kembalikan cahayaku

Biar bisa terus berpendar

Ponorogo, 2007

Kabar Duka

Siapa yang akan membahasakan

Kata hati

Yang mati

Dari tanah tanah terjarah…..

Ketika waktu membisu

Membacakan kabar pilu

Dari pucuk-pucuk jati layu

“Anak bangsa kehilangan Ibu…..”

Berita duka bangsa

Menyisakan luka….

Ponorogo, 2006

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: