Lintang Parahening

Arus Feminisme di Indonesia

In OCCODENTALISM on April 2, 2008 at 11:04 am

Arus Feminisme di Indonesia

Prolog
Islam secara tegas telah membangun konsep keadilan dan tatanan dalam mengatur hak dan kewajiban setiap muslim dan muslimah. aturan aturan tersebut telah menjadi hal konkret dengan suara bulat lebih dari 13 abda, sehjak zaman Rasulullah, sahabat, tabi’in tradisionalis, ahli hukum dan ahli kalam dari semua madzhab.
akan tetapi, seiring degradasi khazanah keilmuan Islam, arus feminisme sebagai upaya pembebasan kaum wanita mulai menlonjak. melangkahi dan mengotori dunia Islam. Hubungan seksual, tutup kepala, kedudukan seorang istri, tanggung jawab mendidik anak, mulai diperdebatkan relevansinya bagi kaum hawa dewasa ini sebagai langkah pembebasan dalam tataran social. Diluar itu, gerakan feminisme bak arus gelombang yang cepat merebak, mengakar dan revolusioner bahkan menjadi wacana wajib sebagian perempuan indonesia sebagai “pejuang” HAM

Feminisme, Gerakan Revolusioner
Gerakan perempuan pertama didirikan oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet, seorang aktivis perempuan yang akhirnya medirikan masyarakat ilmiah untuk perempuan di Middelburg di Belanda pada tahun 1785. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, the Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.
Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.
Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya: gender inequality, hak-hak perempuan, hak reproduksi, hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualitas. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan perempuan, dan phalogosentrisme.
Maryam Jameelah dalam bukunya, Islam dan Modernisme menggambarkan hubungan erat arus feminisme dengan para missionaris-orientalis. Pikiran bahwa pengekangan dan pembatasan gerak perempuan termasuk sebab kemunduran Islam telah menginspirasi Qasim Amin untuk menulis buku pada ahun 1901 yang pertama kali menyerang konsep perempuan dalam Islam, The New Women. Menurut Qasim Amin, salah satu sebab kemunduran umat Islam adalah hilangnya keadilan sosial dalam masyarakat yang dalam ini bermula pada rumah tangga, wanita terbelenggu dalam rumah, tidak dijinkan untuk bekerja, diabaikan perasaanya dan hanya sebatas pemuas nafsu. maka dari itu, Qasim Amin menawarkan pendidikan barat sekular yagn menjadikan prempuan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak lagi tergantung dari laki laki.
Setelah berakhirnya perang dunia kedua, ditandai dengan lahirnya negara-negara baru yang terbebas dari penjajah Eropa, lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun 1960. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut mendiami ranah politik kenegaraan.
Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang Yahudi kelahiran Algeria yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis, Derrida. Dalam the Laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist, dia menolak esensialisme yang sedang marak di Amerika pada waktu itu. Julia Kristeva memiliki pengaruh kuat dalam wacana pos-strukturalis yang sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Derrida.

Aliran Feminisme
Feminisme liberal
Apa yang disebut sebagai Feminisme Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai “Feminisme Kekuatan” yang merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.
Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkab wanita pada posisi sub-ordinat. Budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.
Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Permasalahannya terletak pada produk kebijakan negara yang bias gender. Oleh karena itu, pada abad 18 sering muncul tuntutan agar prempuan mendapat pendidikan yang sama, di abad 19 banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan, dan di abad 20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal. Dalam konteks Indonesia, reformasi hukum yang berprerspektif keadilan melalui desakan 30% kuota bagi perempuan dalam parlemen adalah kontribusi dari pengalaman feminis liberal.
Feminisme radikal
Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi “perjuangan separatisme perempuan”. Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang “radikal”.
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. “The personal is political” menjadi gagasan anyar yang mampu menjangkau permasalahan prempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan. Informasi atau pandangan buruk (black propaganda) banyak ditujukan kepada feminis radikal. Padahal, karena pengalamannya membongkar persoalan-persoalan privat inilah Indonesia saat ini memiliki Undang Undang RI no. 23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).

Feminisme post modern
Ide Posmo – menurut anggapan mereka – ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.

Feminisme anarkis
Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
Feminisme Marxis
Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property. Sistem produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat—borjuis dan proletar. Jika kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat dapat diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan dihapus.

Feminisme sosialis
Sebuah faham yang berpendapat “Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme”. Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang mendinginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis. Aliran ini mengatakan baha patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuagan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban perempuan.

Feminisme postkolonial
Dasar pandangan ini berakar di penolakan universalitas pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.”

Gerakan dan Tokoh Femnisme di Indonesia
Dr. Gadis Arivia lahir di New Delhi, India, 4 September 1964, adalah seorang aktivis gerakan perempuan, Doktor filsafat Universitas Indonesia, dan pendiri Yayasan Jurnal Perempuan. Ketertarikan Gadis soal studi feminisme sudah sejak masa kuliah filsafat. Saat itu, di Indonesia, feminisme masih menjadi teori atau wacana yang dianggap baru. Salah satu pemikir feminisme yang dikaguminya adalah Barbara Smith. Barbara dalam bukunya All the Women are White, All the Blacks are Men, But Some of Us are Brave, yang bersumber dari pidatonya pada 1979 menyebut feminisme adalah teori dan praktik politik yang berjuang untuk membebaskan (pembebasan total) semua perempuan. Di dalam negeri, dia mengagumi seorang dosennya Toeti Herati Nurhadi yang banyak meminjamkan buku-buku feminisme kepada Gadis.
Saat ini, selain menekuni pekerjaannya sebagai pengajar tetap studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia, Gadis mengabdikan diri sebagai Direktur Yayasan Jurnal Perempuan (YJP). Gadis juga sering menulis wacana-wacana feminisme di berbagai media, jurnal, dan buletin di dalam dan luar negeri.
Pada 1990-an, Gadis merasa tertarik pada pemikiran baru tentang pascamodernisme. Ketika itu, Asikin Arif, dosen filsafat Universitas Indonesia, pulang dari Jerman membawa pemikiran pascamodernisme. Sebuah gerakan yang bermula dari kritik seni, arsitektur dan filsafat, kemudian berkembang jadi skeptisisme yang sistematis terhadap teori-teori lama tentang modernisasi dan industrialisasi. Gerakan ini, antara lain dimotori Jacques Derrida dari Perancis, yang dikenal dengan teori dekonstruksi dalam filsafat Barat.
Gadis tertarik atas pemikiran itu dan ikut aktif membentuk kelompok diskusi Lingkaran Studi Filsafat. Sampai kemudian, Gadis dapat bertemu Jacques Derrida, sekaligus untuk melanjutkan studi filsafat di perguruan tinggi ilmu sosial, Ecole Haute Etudes Scientifique Sociale, tempat Derrida mengajar. Selama dua tahun (1992 -1994), dia mengikuti kuliah Jacques Derrida dan aktif membaca dan berdiskusi dengan para mahasiswa.
Adalah sebuah makalah tentnag feminisme dan pemberdayaan perempuan, karya Aida Fitalaya S. Hubies dalam buku membincangkan perempuan menyatakab bahwa ada 5 dasar preposisi feminisme dari abad ke 14 sampai 18:
1. Timbulnya kesadaran beroposisi terhadap fitnah dan kekeliruan perlakuan
2. Adanya keyakinan bahwa jenis kelamin bersifat kultural, bukan biologis
3. Adanya keyakinan bahwa kelompok perempuan merupakan penajaman terhadap kelompok laki laki.
4. Adanya suatu warisan sudut pandang dalam menerima sistem nilai yang berlaku dengan cara mengekspos berdasarkan kultur
5. Adanya keinginan untuk menerima konsep manusia dan perikemanusiaan

Semua preposisi diatas memungkinkan manusia untuk menjadi yang terbaik, tak terkecuali perempuan dengan suatu gerakan feminisme yang bertujuan sebagai berikut:
1. Mencari cara penataan ulang mengena nilai nilai di dunia mengikuti kesamaan gender dalam konteks universal
2. Menolak setiap perbedaan manusia yang dibuat atas dasar jenis kelamin
3. Menghapuskan semua hak hak istimewa atau pembatasan pembatasan tertentui atas dasar jenis kelamin
4. Berjuang untuk membentuk pengakuan kemanusiaan menyeluruh tentang lakui laki dan perempuan sebagai dasar hukum tentang manusia dan kemanusiaan.

Di lain sisi, Wardah Hafidz, menyerukan feminisme sebagai budaya tandingan (counter culture) karena secara tajam ia menggugat atau menantang nilai nilai baku dalam masyarakatnya. Ssesungguhnya budaya tandingan semacam ini sebuah peringatan bahwa pranata sosial dalam masyarakat sedang goyah, sistem pendukung kultural mitos dan simbol tidak lagi berfungsi sebagaimana harusnya, dan keprcayaan atas itu semua telah mati.

Epilog
Selain beberapa intelektual perempuan diatas, masih banyak lagi penggerak feminisme yang berjalan terang terangan maupun underground, sendiri maupun dlam berbagai wadah organisasi semisal Jaringan Islam Liberal, Jurnal Perempuan dll. Apapun bentuknya, feminisme akan diasosiasikan sebagai pembebasan kaum hawa karena sebuah asumsi ketidak adilan dari sosio-historis. Di Indonesia saja menurut data survai angkatan kerja Nasional tahun 1990, sekitar 61,21% pekerja perempuan berpenghasilan kurang dari 50 ribu perbulan, sedangkan kaum laki laki dengan penghasilan yagn sama hanya 24, 83%. Belum lagi ditambah dengan berbagai kasus buruh dan diskriminasi perempuan.
Dari berbagai ketimpangan sosial dan fungsi dalam pranata kehidupan bermasyarakat, suatu keniscayaan apabila kaum perempuan di Indonesia mengikuti jejak ideology beberapa Negara barat untuk membebaskan perempuan dan membongkar mitos yang sela ini mengekang.

Daftar Pustaka

Maryam Jameelah, Islam dan Modernisme, Usaha Nasional Surabaya
Dadanf S. Anshori dkk., Membincangkan Feminisme,Pustaka Hidayah, Bandung 1997
Website http://www.wikipedia.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: